METODE GASING

Di antara pembaca pernah mendengar metode Gasing ?. Ini adalah metode mengajar matematika yang ditawarkan oleh Prof. Surya. Bagi yang tertarik belajar metode  mengajar matematika dengan metode GASING;  silahkan cermati tawaran berikut ini.

*Mengajar matematika SD 6 tahun jadi 6 bulan?*
Bagaimana mungkin?
Anda ingin jadi pelatih?
Surya Institute akan melatih 20 orang untuk menjadi pelatih metode
Matematika GASING (Gampang Asyik menyenangkan) . Metode ini telah diuji coba pada anak-anak Papua, mereka yang sebelumnya tidak bisa menghitung dalam waktu hanya 6 bulan sudah dapat mengerjakan soal-soal setingkat ujian nasional SD (sekolah dasar).
Persyaratan:
1. Lulusan S1/S2 jurusan teknik/MIPA dengan IPK>2,9 atau guru
matematika yang sudah pengalaman mengajar minimal 10 tahun.
2. Senang mengajar matematika
3. Mempunyai pengalaman membimbing matematika SD atau SMP
4. Usia 20 – 40 tahun
5. Lulus test tertulis dan test interview
6. Bersedia kontrak minimal 1 tahun (pelatihan + praktek lapangan)
7. Bersedia menularkan metode ini pada orang lain.
Tentang pelatihan:
1. Pelatihan langsung dipimpin oleh Prof. Yohanes Surya.
2. Praktek lapangan (penerapan metode ini) dilakukan tiap hari.
3. Pelatihan dan praktek lapangan gratis (tidak dipungut biaya)
4. Setiap peserta akan mendapat fasilitas: 1 kamar tidur full AC +
makan + uang saku + materi pelatihan.
Lamaran (dengan CV + foto) dapat dikirimkan ke metodegasing@ gmail.com paling lambat 14 Febuari 2010.
Keuntungan dari pelatihan: selesai pelatihan, para peserta dapat melatih
guru-guru, membuka bimbingan belajar sendiri atau menerapkan langsung metode ini disekolah-sekolah. Demikian informasi yang saya peroleh dari prof Budi.

KIAT MENANG BEASISWA

Pada era globalisasi di mana setiap orang mempunyai hak mendapatkan kehidupan yang lebih baik di seluruh muka Bumi, akan membuat persaingan pencari kerja semakin keras. Oleh karena itu, setiap orang harus membekali dirinya untuk bisa menang dalam mendapatkan pekerjaan, atau mampu membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri.

Salah satu cara membekali diri adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas, baik di dalam ataupun di luar negeri. Namun, mendapatkan pendidikan yang berkualitas bukanlah yang mudah dan murah. Bagi orang berpunya, mereka akan mampu membiayai sendiri. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak punya cukup uang?

Salah satu jalan adalah beasiswa, namun untuk mendapatkannya juga bukan hal yang mudah. Ada ratusan bahkan ribuan orang berpotensi yang juga ingin mendapatkan beasiswa yang jumlahnya sangat terbatas.

Untuk mencoba beasiswa dari luar negeri, juga bukan hal mudah. Selain, karena harus bersaing dengan peminat dari negara-negara lain dan persyaratan yang tidak mudah, juga karena informasi mengenai beasiswa terbaru itu masih sedikit.

Beberapa yayasan pemberi beasiswa seperti AMINEF, memang mengiklankan di media massa. Namun, seringkali beasiswa yang ditawarkan tidak sesuai dengan minat yang ingin dikembangkan.

“Masalah informasi merupakan kendala terbesar saya untuk mendapatkan beasiswa. Saya yang bekerja di Papua, baru bisa membaca koran setelah satu minggu terbit. Jadi, persaingan belum dimulai, saya sudah harus menghadapi kendala dulu,” kata Togap Siagian (29), penerima beasiswa Fulbright 2000 dan pendiri kelompok kores- pondensi surat elektronik internet khusus beasiswa (http://groups.yahoo.com/group/beasiswa).

SEJAK pertama didirikan, 21 Maret 2000, Siagian memang sendirian mengelola mailing list itu. Dia menjadi moderator surat-surat yang masuk, baik berisi pertanyaan, informasi mengenai beasiswa di seluruh dunia, dan kiat memenangkannya.

“Orang Indonesia punya potensi memenangkan beasiswa, namun mereka menghadapi banyak kendala yang sebenarnya bisa diatasi dengan mudah. Karena tidak bisa mengatasi kendala itu, mereka kalah. Mailing list ini bertujuan membantu memberi informasi untuk siapa saja yang ingin mendapatkan kesempatan sekolah dengan beasiswa. Semacam wadah saling berbagi informasi dan pengalaman,” kata Siagian.

Sekarang, Siagian yang masih bekerja di Papua, sudah dibantu delapan moderator yang tersebar di Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Inggris, Jepang, Belanda, dan Amerika. Mereka menyortir, menjawab, menghapus surat elektronik yang tidak penting, dan memperingatkan pengirim surat yang tidak menjelaskan maksudnya dengan jelas. “Banyak peserta minta informasi tentang beasiswa untuk pendidikan master. Peserta ini tidak menjelaskan jenis pendidikan dan di mana. Kadang-kadang hal seperti ini menjengkelkan juga,” aku Siagian.

Para milister (peserta mailing list) semakin hari semakin bertam- bah. Saat ini, jumlah peserta mencapai ribuan orang yang tersebar di seluruh dunia. Untuk menjadi anggotanya, cukup mengirim surat kosong ke alamat beasiswa-subscribe@yahoogroups.com. Yayasan pemberi beasiswa pun agaknya telah percaya dengan mereka, sehingga sering memberi informasi mengenai program beasiswa dari lembaga mereka.

SELAIN dari mailing list beasiswa dan website infobeasiswa, informasi beasiswa juga bisa didapat dengan tiga cara. Pertama, mendaftar ke badan pemberi beasiswa. Misalnya Yayasan Sampoerna, Aminef untuk beasiswa Fulbright, dan British Council untuk Chevening Award.

Kedua, peminat bisa langsung mendaftar ke universitas yang diinginkan. Peminat bisa berkores- pondensi langsung dengan profesor di universitas itu dan minta surat rekomendasi.

Ketiga, melalui penelitian. Biasanya jika seorang profesor atau universitas ingin melakukan penelitian besar, mereka membutuhkan asisten. Asisten ini akan dibayar, dan uangnya bisa dipakai biaya studi dan biaya hidup. Biasanya, mereka akan mendapatkan biaya studi lebih murah karena mereka bekerja untuk universitas. Lagi pula, proyek penelitian seperti ini akan memakan waktu minimal lima tahun, waktu yang cukup panjang untuk studi.

Dari ketiga cara mendapatkan beasiswa itu, hal terpenting yang harus dipegang peminat beasiswa adalah memenuhi syarat yang diminta. Jika memang diperlukan nilai TOEFL/IELTS (standar nilai kemampuan berbahasa Inggris), pastikan memilikinya. Begitu juga bila diperlukan syarat kecakapan matematik seperti GMAT, dan lainnya.

Menurut Pangesti Wiedarti, dosen Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Yogyakarta yang juga penerima beasiswa doktor di bidang linguistik Universiy of Sydney, sebaiknya peminat beasiswa mencari beasiswa tidak di satu universitas saja. “Carilah di beberapa universitas agar mendapatkan beasiswa yang benar-benar cocok,” ujar Pangesti.

Sidrotun Na’im, penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) 2003 me- ngatakan, peminat beasiswa dari Indonesia bagian timur memiliki peluang lebih besar daripada peminat Indonesia bagian barat. Sepertiga dari jatah beasiswa ADS yang ada diberikan untuk Indonesia timur. “Jika dilihat dari potensi dan kondisi Indonesia timur, peminat Indonesia timur memiliki peluang lebih besar,” kata Sidrotun.

Salathiel Gideon, penerima beasiswa S2 dari Yayasan Sampoerna mengatakan, dirinya menerapkan empat langkah strategis untuk memenangkan beasiswa itu.

Pertama, ketika memutuskan mendaftar beasiswa, dia membuat perencanaan. Apa saja yang harus dia lakukan untuk beasiswa tersebut. “Saya menentukan program apa yang akan saya ambil, lalu saya catat apa saja yang dibutuhkan jika saya mengambil program tersebut. Saya juga belajar membuat surat rekomendasi dan mempersiapkan diri untuk tes wawancara,” kata Gideon.

Kedua, Gideon melakukan tahap-tahap yang telah dia tentukannya dalam rencana. Dia mengakses situs Yayasan Sampoerna dan mencari tahu apa saja yang diminta. “Saya benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi tes tulis. Saya cari buku-buku yang bisa menjadi nara sumber. Kemudian, saya berdiskusi dengan pemberi rekomendasi. Selain itu, saya juga berkonsultasi dengan teman-teman yang pernah mendapatkan beasiswa,” kata Gideon.

Ketiga, mengecek apa yang telah dia lakukan. Gideon berulang kali melihat apa yang telah dia pelajari dan mencoba mengerjakan tes yang ada. Dia juga mengecek adakah persyaratan yang belum dia penuhi.

Keempat, mengecek ulang. Jika memang apa yang telah dia lakukan masih dirasakan kurang, Gideon tidak ragu-ragu mengulang. Begitu juga dengan surat rekomendasi. Jika, surat rekomendasi itu dirasa tidak membantu, lebih baik mencari rekomendasi lain. “Saya pertimbangkan benar, apakah surat rekomendasi itu sungguh-sungguh mengevaluasi diri saya dengan adil. Jika tidak, lebih baik saya cari rekomendasi lain,” tegas Gideon. (ARN) Diambil dari harian Kompas.

Beberapa website informasi beasiswa yang bisa dijadikan referensi:

www.infobeasiswa.net
beasiswaterbaru.wordpress.com

KLIK DISINI UNTUK BERLANGGANAN INFO BEASISWA TERBARU VIA E-MAIL

KARAKTERISTIK GAYA BELAJAR

Visual    

Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Gaya, Belajar melalui pengamatan: mengamati peragaan
Membaca, Menyukai deskripsi, sehingga seringkali ditengah-tengah membaca berhenti untuk membayangkan apa yang dibacanya.
Mengeja, Mengenali huruf melalui rangkaian kata yang tertulis
Menulis, Hasil tulisan cenderung baik, terbaca jekas dan rapi.
Ingatan, Ingat muka lupa nama, selalu menulis apa saja.
Imajinasi, Memiliki imajinasi kuat dengan melihat detil dari gambar yang ada.
Distraktibilitas, Lebih mudah terpecah perhatiannya jika ada gambar.
Pemecahan, Menulis semua hal yang dipikirkan dalam suatu daftar.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Jalan-jalan melihat sesuatu yang dapat dilihat.
Respon untuk situasi baru, Melihat sekeliling dengan mengamati struktur.
Emosi, Mudah menangis dan marah, tampil ekspresif
Komunikasi, Tenang tak banyak bicara panjang, tak sabaran mendengar, lebih banyak mengamati.
Penampilan, Rapi, paduan warna senada, dan suka urutan.
Respon terhadap seni, Apresiasi terhadap seni apa saja yang dilihatnya secara mendalam dengan detil dan komponen, daripada karya secara keseluruhan.

Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.
Auditori

Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Gaya, belajar melalui instruksi dari orang lain
Membaca, Menikmati percakapan dan tidak memperdulikan ilustrasi yang ada
Mengeja, Menggunakan pendekatan melalui bunyi kata
Menulis, Hasil tulisan cenderung tipis, seadanya
Ingatan, ingat nama lupa muka,ingatan melaui pengulangan.
Imajinasi, Tak mengutamakan detil, lebih berpikir mengandalkan pendengaran.
Distraktibilitas, Mudah terpecah perhatiannya dengan suara.
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui lisan.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Ngobrol atau bicara sendiri.
Respon untuk situasi baru, Bicara tentang pro dan kontra.
Emosi, Berteriak kalau bahagia, mudah meledak tapi cepat reda, emosi tergambar jelas melalui perubahan besarnya nada suara, dan tinggi rendahnya nada.
Komunikasi, Senang mendengar dan cenderung repetitif dalam menjelaskan.
Penampilan, Tak memperhatikan harmonisasi paduan warna dalam penampilan.
Respon terhadap seni, Lebih memilih musik. Kurang tertarik seni visual, namun siap berdiskusi sebagai karya secara keseluruhan,tidak berbicara secara detil dan komponen yang dilihatnya.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri

Penampilan rapi

Mudah terganggu oleh keributan

Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat

Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

Biasanya ia pembicara yang fasih

Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual

Berbicara dalam irama yang terpola

Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.

2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.

3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.

4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.

5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.
Kinestetik

Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Gaya, Belajar melalui melakukan sesuatu secara langsung
Membaca, Lebih memiliki bacaan yang sejak awal sudah menunjukkan adanya aksi.
Mengeja, Sulit mengeja sehingga cenderung menulis kata untuk memastikannya
Menulis, Hasil tulisan “nembus” dan ada tekanan kuat pada alat tulis sehingga menjadi sangat jelas terbaca.
Ingatan, Lebih ingat apa yang sudah dilakukan, daripada apa yang baru saja dilihat atau dikatakan.
Imajinasi, Imajinasi tak terlalu penting, lebih mengutamakan tindakan/kegiatan.
Distraktibilitas, Perhatian terpecah melalui pendengaran
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui kegiatan fisik dan aktivitas.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Mencari kegiatan fisik bergerak.
Respon untuk situasi baru, Mencoba segala sesuatu dengan meraba, merasakan dan memanipulasi.
Emosi, Melompat-lompat kalau gembira, memeluk, menepuk, dan gerakan tubuh keseluruhan sebagai luapan emosi.
Komunikasi, Menggunakan gerakan kalau bicara, kurang mampu mendengar dengan baik.
Penampilan, Rapi, namun cepat berantakan karena aktivitas yang dilakukan
Respon terhadap seni, Respons terhadap musik melalui gerakan. Lebih memiliki patung, melukis yang melibatkan aktivitas gerakan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

Berbicara perlahan

Penampilan rapi

Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

Belajar melalui memanipulasi dan praktek

Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca

Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

Menyukai permainan yang menyibukkan

Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu

Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.

2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).

3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.

4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.

5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

“Orangtua dan guru harus kenal gaya belajar anak secara tepat agar anak tak frustasi karena dinilai

Tulisan Ozu rapih dan enak dibaca. Di dalam buku catatan sekolahnya banyak sekali simbol atau gambar daripada kata-kata. Kalau mencari buku bacaan, Ozu akan membolak-batik gambarnya atau penggambaran suasana cerita. Jika membaca atau mendengar kata bunga, dia mencatatnya dengan gambar bunga, atau kata “meningkat” akan ditulisnya berupa tanda panah ke atas. Di kelas dia lebih suka kalau guru menerangkan sesuatu dengan gambar. Bagi Ozu segala sesuatu yang ia dengar, harus ditulis kembali dalam satu daftar. Tak jarang dia membuat titian keledai dengan nama yang mudah diingat untuk mengingat pelajaran.
Sedangkan, buku tulis Gladys lebih banyak halaman kosong dan tulisannya tak cukup rapih. Gladys selalu bilang sudah memahami pelajaran dengan baik, jadi tidak perlu ada catatan. Di dalam kelas Gladys selalu aktif bertanya, ia juga dianggap cermat mendengarkan pelajaran. Di rumah Gladys lebih asyik bermain PS dan selalu membaca ulang komik-komik yang dibeli, sampai hafal dialognya la selalu ingat kata-kata yang didengar?nya. Jangan coba-coba berjanji dengan Gladys, pasti akan dikejarnya.
Lain lagi dengan Fani yang selalu mempraktikkan perkataan guru di kelas. Dia paling suka melakukan percobaan. Semua tugas praktik dalam buku pelajaran dengan antusias dikerjakannya sendiri. Fani semangat bertanya hal apa saja yang ingin diketahuinya untuk bisa dilakukan. Dia paling sering membantu bibi memasak. Ibunya mengaku jarang melihat Fani duduk membaca dan menu?lis terus menerus dengan tertib di dalam kamar.
Orangtua harus menyadari bahwa anak memiliki gaya belajar berbeda untuk mengembangkan potensinya. Mari kita bayangkan bahwa potensi anak berada di dalam satu kotak tertutup. Untuk membuka kotak tersebut, diperlukan kunci. Kunci yang dimaksud adalah bagaimana orangtua dapat memahami gaya belajar anak, sehingga tidak perlu merasa cemas kalau melihat anak tampak santai di rumah karena tidak belajar. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup. Yang pasti semua orang belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Psikolog pendidikan menyakini bahwa setiap orang memiliki kekuatan belajar atau modalitas belajar. Semakin kita mengenal baik modalitas belajar kita maka akan semakin mudah dan lebih percaya diri di dalam menguasai suatu keterampilan dan konsep-konsep dalam hidup. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup. Yang pasti semua orang belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Psikolog pendidikan menyakini bahwa setiap orang memiliki kekuatan belajar atau modalitas belajar. Semakin kita mengenal baik modalitas belajar kita maka akan semakin mudah dan lebih percaya diri di dalam menguasai suatu keterampilan dan konsep-konsep dalam hidup. Belajar berawal dari rumah! Anak belajar melalui apa yang ia lihat, dengar, dan  sentuh. Satu dari tiga saluran inderawi -visual, auditori dan kinestetik- adalah salah satu cara untuk belajar dengan baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi cara belajar anak adalah persepsi, yaitu bagaimana dia memperoleh makna dari lingkungan. Persepsi diawali lima indera: mendengar, melihat, mengecap, men?cium,dan merasa.Didunia pendidikan, istilah modalitas mengacu khusus untuk penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Modalitas visual menyangkut penglihatan dan bayangan mental. Modalitas pen?dengaran merujuk pada pendengaran dan pembicaraan. Modalitas kinestetik merujuk gerakan besar dan kecil.  Salah satu tanda mengenali gaya bela?jar seseorang melalui kalimat yang ia gunakan. Tipe visual akan bicara misalnya, ” Mama, lihat muka Indri dong jika mau bicara sesuatu.” Bu Guru bisa melihat apa yang aku maksudkan barusan?” Sedang?kan, tipe auditori mengatakan, “Mama, dengerin, aku mau cerita:’Tipe kineste?tik cenderung berbicara sangat singkat, bahkan tanpa komentar apapun. Tanpa disadari gaya belajar mempenga?ruhi seseorang memilih tempat duduk. Tipe visual lebih memilih duduk di baris depan. Tipe auditori cenderung duduk di tengah-tengah. Tipe kinestetik, lebih memilih duduk di sebelah kanan, dekat pintu. Mereka akan segera melarikan diri jika merasa tidak perlu mendengarkan. Apa yang bisa dibantu orangtua? Dengan memahami gaya belajar anak berarti akan membuat anak lebih bahagia. Karena respons orangtua terhadap kebutuhan dirinya tepat. Bagi anak dengan gaya belajar kinestetik, maka orangtua atau guru diharap pula aktif bersikap fisik.Anak tak mau buang waktu untuk bicara dan cenderung langsung pada apa yang harus dikerjakan. Anak sangat energik dan selalu nomor satu berdiri di depan barisan. Jika mendengarkan musik, dia bergoyang sesuai irama. Jika diajak jalan-jalan, tangannya mencoba menyen?tuh apa saja. Pilih mainan roda dua, tali lompat, bola, cat air, clan dough. Anak juga suka main drama. Penegakkan disiplin tak cukup hanya verbal, karena tak berpengaruh. Perlu digunakan cara time out. Anak tipe auditori terlihat gemar bicara. Di kelas sering mengganggu anak lain dengan teriakan dan cerita-ceritanya. Anak ini pencinta musik apa saja. Pilih berbagai macam CD dan alat musik main?an. Beri kesempatan sebanyak mungkin untuk bicara, menyanyi, mendengarkan, dan berteriak. Penegakan disiplin cukup dengan kata-kata. Gunakan dialog dan tatap muka untuk menjelaskan masalah yang perlu menjadi perhatiannya.
Anak tipe visual tampak terpaku dalam mengamati sesuatu. Dia penuh rasa ingin tahu terhadap hal baru. Orangtua dapat memberikan kesempatan melalui gambar-gambar. Berbagai perlengkapan seperti papan tulis, krayon, cat air, spidol, gunting clan lem bisa disiapkan untuknyz Termasuk main-an boneka-boneka yang dapat diganti pakaiannya. Disiplin ditegakkan dengan mengacu pada orangtua. Mereka tidak membutuhkan
perkataan panjang lebar, tetapi cukup mencontoh perbuatan orangtua. Hadiah cukup dengan senyum lebar, dan ekspresi orangtua terhadap kegiatan mereka.

Peraturan bagi orang tua :
1. Sadari tipe gaya belajar anak. Tipe kinestetik, visual, auditori atau kombinasi.
2. Sadari tipe gaya belajar diri. Orangtua bisa saja memiliki gaya belajar berbeda dengan anaknya.
3. Penuhi anak dengan kesempatan agar dia berhasil dalam modalitas yang dimilikinya.
4. Disiplin dan beri hadiah sesuai dengan gaya belajarnya.
5. Selalu melihat posisi terbaik yang dimiliki anak untuk dikembangkan.
6. Bantulah anak menggunakan strategi modalitas untuk menguasai berbagai keterampilan clan konsep lainnya.–*

Ada CINTA di Mat3m4t1k4

BENER GAKA SIH ADA CINTA DI MATEMATIKA

Orang bilang matematika menakutkan, ngeri, berbahaya karena bisa bikin kepala pusing tujuh keliling . kenapa sih harus ada matematika …………..???????????//

Hmm …. itu pendapat bagi yang belum tahu rahasia matematika bahkan orang bisa lho jatuh cinta dengan matematika .

Ah masa sih….beneran….? mugkinkah ada cinta di matematika?????

Yuk kita lihat.  Bertebaran C-I-N-T-A  di matematika

Coba deh lihat gambar grafik menggunakan sofware, (misalnya di kalkulator grafik/graphmatica/grapviewer/ wolfram atau bisa juga di situs online seperti http://wolframalpha.com) sebagai berikut:

(y - sqrt(abs(x)))² +  x² = 1

Nah kalo udah tunggu aja hasilnya, dijamin deh kmu bakal jatuh cinta dengan matematika.
ummm dah gak sabar yah ok deh gak usah lama - lama deh lihat di sofware diatas ini nih hasilnya


KUBUS

Definisi Kubus

Kubus adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh enam buah sisi berbentuk persegi yang kongruen

Bangun berbentuk kubus dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari

Pada gambar tampak :

  1. Dadu yang berbentuk kubus
  2. Kerangka kubus yang terbuat dari logam (yang disebut rusuk) terdiri dari 12 rusuk kubus yang sama panjang

Terdapat 6 buah sisi kongruenyang berbentuk persegi yang akan membatasi KUBUS, posisinya adalah:

  1. sisi alas
  2. sisi depan
  3. sisi atas
  4. sisi belakang
  5. sisi kiri
  6. sisi kanan

Penamaan kubus disesuaikan dengan sisi alas dan sisi atas.

Jika sisi alas kubus ABCD, dan sisi atas kubus EFGH, maka kubus tersebut dinamakan kubus ABCD.EFGH

Crop circle dan matematika fraktal julia set

Pada bulan Juli 1996 pukul 18:15 malam, seorang pilot sedang menerbangkan pesawatnya melewati ladang-ladang gandum di Wiltshire, di dekat monumen kuno Stonehenge. Di kursi belakang, seorang dokter yang menjadi penumpangnya asyik memotret pemandangan dibawahnya. Mereka bisa melihat lahan-lahan gandum yang bersih dan rapi dari atas pesawatnya. Sekitar 15 menit kemudian, mereka kembali terbang melewati ladang gandum yang sama. Kali ini mereka melihat ladang gandum tersebut telah dihiasi oleh pola-pola spiral raksasa yang indah, yaitu sebuah crop circle dengan pola terhebat yang pernah dilihat oleh manusia, pola yang dianggap mewakili fraktal matematis Julia Set.

Julia Set adalah sebuah formula matematika yang digunakan untuk melakukan pengukuran yang kompleks yang berhubungan dengan teori chaos. Formula ini pertama kali ditemukan oleh Gaston Julia pada awal abad ke-20. Namun keindahan formula ini baru dapat disaksikan ketika komputer ditemukan. Saya yakin anda tidak tertarik untuk mengetahui rumus-rumus formula ini, namun anda pasti tertarik melihat fraktal yang dihasilkannya, seperti gambar indah dibawah ini :

Pada tahun 1996, sebuah crop circle yang dianggap sebagai representasi fraktal Julia Set muncul di Wiltshire, dekat dengan Stonehenge. Pola ini dianggap sebagai salah satu pola terhebat yang pernah ada. Ia memiliki 149 lingkaran yang membentuk sebuah crop circle raksasa. Seperti yang saya ceritakan di atas, pilot pesawat tersebut memang tidak menyaksikan crop circle ini terbentuk, namun ia menyatakan bahwa 15 menit sebelumnya pola ini belum ada di ladang tersebut. Jadi crop circle ini boleh dibilang terbentuk hanya dalam tempo maksimal 15 menit !

Previous Older Entries